Selasa, 27 September 2016

PERGERAKAN SAREKAT ISLAM MERAH DI SUMATERA BARAT (Thawalib Padang Panjang)



Pada tahun 1920-an, ketika benih marxisme mulai masuk ke Indonesia, yang menyebarkannya ke bumi—rakyat—adalah para Haji. Mereka mengibarkan panji-panji “Islam Komunis”. Di Jawa, penggerak utamanya bernama Haji Misbach. Ia adalah seorang mubaligh didikan pesantren. Selain itu, Misbach sudah menunaikan ibadah Haji di Tanah Mekah. Dan, jangan salah, dia bisa berbahasa Arab.
Di Sumatera Barat, orang seperti Haji Misbach juga ada. Namanya: Haji Ahmad Khatib alias Haji Datuk Batuah. Ia lahir tahun 1895, di Koto Laweh, Padang Panjang. Ayahnya, Syekh Gunung Rajo, adalah seorang pemimpin Tarekat Syattariyah. Datuk Batuah sempat mengenyam pendidikan dasar di sekolah Belanda. Setelah tamat, ia menuntut ilmu di Tanah Mekah selama 6 tahun, yakni dari tahun 1909 hingga 1915. Di sana ia berguru pada Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Saat itu, di Sumatera Barat, sudah berdiri perguruan Islam bernama “Sumatra Thawalib”. Perguruan ini didirikan oleh kaum modernis Islam, yang berusaha melakukan pembaruan Islam melalui pendidikan. Salah satu gurunya bernama Haji Rasul—ayah dari Buya Hamka. Audrey Kahin, dalam bukunya “Dari Pemberontakan ke Integrasi”, mencatat bahwa beberapa guru di Sumatera Thawalib tidak melarang murid-muridnya mempelajari teori-teori radikal, termasuk marxisme.
Begitu pulang dari Mekah, Datuk Batuah langsung bergabung dengan Sumatera Thawalib. Awalnya, ia menjadi murid Haji Rasul. Dia dianggap murid paling cerdas dan dinamis. Karena itu, ia pun diangkat menjadi Asisten pengajar oleh Haji Rasul. Namun, karena pengaruh teori-teori radikal, Datuk Batuah sering berseberangan pendapat dengan Haji Rasul. Haji Rasul sendiri sangat otokratis dan konservatif. Ia menentang ide-ide radikal yang digandrungi oleh muridnya.
Pada tahun 1920-an, Haji Datuk Batuah ditugasi oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan sekolah Thawalib di Aceh. Namun, siapa sangka, di perjalanan inilah Ia bertemu dengan Natar Zainuddin, seorang propagandis serikat buruh kereta api (VSTP). Datuk Batuah dan Natar Zainuddin langsung berkawan akrab. Pada tahun 1923, keduanya berangkat ke Jawa. Entah sengaja atau tidak, keberangkatan mereka bertepatan dengan Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI)/Sarekat Rakyat (SR) di Bandung, Jawa Barat. Datuk Batuah dan Natar Zainuddin jadi peserta di kongres itu. Saat itu, seorang Haji dari Surakarta, yaitu Haji Misbach, tampil berpidato di Kongres. “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Medinah,” begitulah Misbach memperkenalkan dirinya.
Namun, begitu Misbach masuk ke inti pidatonya, Datuk Batuah langsung terperangah. Menurut Misbach, ada kesesuaian antara ajaran Al-Quran dan Komunisme. Antara lain, Al-Quran mengajarkan bahwa setiap muslim harus mengakui hak azasi manusia. Tetapi hal itu juga menjadi prinsip dalam program komunis. Selain itu, kata Misbach, Tuhan memerintahkan untuk melawan segala bentuk penghisapan dan penindasan. Hal itu juga menjadi jiwanya kaum komunis. Lebih penting lagi, komunisme tidak mentolerir diskriminasi pangkat dan ras. Ajaran Karl Marx ini juga mengutuk klas-klas di dalam masyarakat. Slogannya: Sama rasa, Sama rata!
“Siapa yang tidak bisa menerima prinsip-prinsip komunisme berarti dia belum benar-benar muslim,” kata Misbach di akhir pidatonya. Pidato Misbach sangat membekas dalam pikiran Datuk Batuah. Begitu pulang ke Sumatera Barat, ia segera menyebarkan pandangan “Islam Komunis” ala Misbach itu kepada murid-muridnya di Perguruan Thawalib dan melalui koran “Pemandangan Islam”.
Sementara Natar Zainuddin, yang kembali ke Sumatera Barat pada Mei 1923, segera menyebarkan gagasannya melalui koran “Djago-Djago”. Dua koran ini pula yang menjadi terompet perjuangan menentang kolonialisme di Sumatera Barat. Pada tanggal 20 November 1923, berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota).
Sejak itu, Datuk Batuah menjelma menjadi “propagandis komunis”. Rakyat banyak menyebutnya “ilmu kuminih”. Banyak pedagang terseret dalam propaganda “Islam Komunis”. Maklum, Islam mengharamkan praktek “Riba” dan melarang umatnya menumpuk harta. Ini selaras dengan propaganda Marxisme menentang kapitalisme. Haji Datuk Batuah menikah dengan Saadiah. Hasil perkawinannya dikaruniahi tiga anak. Salah seorang anaknya diberinama: LENIN. Lalu, Datuk Batuah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Zainab. Ia dikaruniai seorang putri bernama KARTINI. Sebagai seorang komunis, Haji Datuk Batuah tetap taat pada agamanya. Audrey Kahim mengutip pernyataan Buya Hamka tentang Haji Datuk Batuah: “Rupanya dia menjadi pengikut setia komunisme hanya untuk hal-hal yang menyangkut (ajaran) ekonomi, tidak dalam hal-hal materialisme historisnya. Jadi, dia komunis tulen yang masih memeluk agama Islam. Konon kabarnya, orang-orang komunis yang anti-agama harus hormat kepadanya. Sebab dia tidak keberatan bersikap keras terhadap orang-orang yang mencela agamanya.”
Propaganda “Islam Komunis” sangat membumi. Rakyat pun berbondong-bondong menjadi anggoat PKI. PKI Padang Panjang punya pusat propaganda bernama: International Debating Club (IDC). Namun, rupanya, Belanda sangat khawatir dengan hal itu. Maklum, PKI adalah organisasi paling radikal dan paling keras menentang kolonialisme Belanda. Akhirnya, baru 2 bulan beraktivitas di Padang Panjang, Belanda menggeledah IDC. Itu terjadi tanggal  11 November 1923. Saat itu, aktivis IDC sedang melipat-lipat koran Djago-Djago! Tiba-tiba datang Polisi bersenjata lengkap menggeledah tempat itu.
Natar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap. Sehari kemudian, para aktivis PKI Padang Panjang dan anggota Redaksi Djago-Djago juga mulai ditangkapi oleh Belanda. Sebulan kemudian, Djamaluddin Tamin juga ditangkap. Datuk Batuah dan Natar Zaimuddin dibuang ke Timor (NTT). Natar Zainuddin dibuang ke Kafannanoe (Kefamenanu), sedangkan Datuk Batuah dibuang ke Kalabai (Kalabahi, Alor). Namun, meski di pembuangan, Datuk Batuah tetap aktif berjuang. Bersama dengan  Christian Pandie, aktivis Timor, mendirikan organisasi bernama Partai Serikat Timor. Tak lama kemudian, partai ini berganti nama menjadi Partai Serikat Rakyat. Azasnya tetap: Komunisme! Sayang, ketika meletus pemberontakan PKI tahun 1926, aktivis Partai Sarekat Rakyat turut ditumpas Belanda.
Pada tahun 1927, Datuk Batuah dan Natar Zainuddin dipindahkan ke Boven Digul, Papua. Tidak banyak dokumentasi terkait kehidupan Datuk Batuah dan Natar selama di Digul. Begitu Jepang merengsek masuk Indonesia, Datuk Batuah dipindahkan New South Wales, Australia. Konon kabarnya, Datuk Batuah dan istrinya, Saadiah, sempat kembali ke Indonesia dan tinggal di Solo, Jawa Tengah. Dalam buku Soe Hok Gie, Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, disebutkan bahwa Datuk Batuah masuk daftar anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia mewakili Solo bersama DN Aidit dan Alimin. Tahun 1948, Ia kembali ke kampung halamannya: Koto Laweh, Padang Panjang. Di sana ia tetap berpropaganda komunisme. Datuk Batuah meninggal dunia tahun 1949.

Kamis, 17 Maret 2016

NEGARA DAN REVOLUSI



NEGARA DAN REVOLUSI
Ajaran Marxisme Tentang Negara Dan Tugas-Tugas Proletariat Dalam Revolusi
W.I.Lenin
Penerbit : INDONESIA PROGRESIF 1976


KATA PENDAHULUAN EDISI PERTAMA
          Negara sekarang ini memperoleh arti penting khusus di bidang teori maupun didalam politik praktis. Perang imprealis telah mempercepat dan memperhebat proses peranan kapitalisme monopol menjadi kapitalisme negara. Penindasan yang mengerikan atas kerja oleh negara, yang makin lama makin padu dengan perserikatan-perserikatan kapitalisme mahakuasa, menjadi lebih mengerikan negeri-negeri yang maju sedang merubah cara tentang “ daerah belakang “ mereka dipenjarakan, di kerja paksa secara militer bagi para buruh (pekerja).
Korban dan bencana yang tiada taranya yang menjadikan perang terus berlarut-larut membuat massa tertahankan dan memperhebat keuntungan mereka. Revolusi proletar international yang terus matang membuat hubungan antara pemilik modal dan mereka memperoleh arti penting dan praktis. Pertama kita periksa ajaran Marx dan Engels tentang negara, kita bicarakan secara sangat terperinci segi-segi ajaran ini yang telah dilupakan atau telah mengalami pemutar balikan oportunitis. Kemudian kita akan membahas secara khusus wakil utama dari pemutar balikan ini, yaitu Karl Kautsky, pemimpin yang paling terkenal dari Internationale II (1889-1914), yang telah mengalami kebangkrutan yang begitu menyedihkan dalam masa perang yang sekarang ini. Akhirnya, kita akan menyimpulkan hasil-hasil utama pengalaman revolusi-revolusi Russia tahun 1905 dan terutama tahun 1917.
Rupanya, yang tersebut belakangan itu pada saat sekarang (awal agustus 1917) sedang menyelesaikan tingkat pertama perkembangannya, tetapi seluruh revolusi ini pada umumnya dapat difahami hanya sebagai salah satu mata rantai dari rantai revolusi-revolusi proletar sosialis yang dilahirkan oleh perang Imprealis. Maka itu, masalah hubungan revolusi sosialis proletariat dengan negara memperoleh bukan hanya artipenting politik praktis saja, tetapi juga artipenting yang paling hangat sebagai masalah menjelaskan kepada massa apa yang harus mereka kerjakan di masa depan yang sangat dekat untuk membebaskan diri dari penindasan Kapitalisme.




Bab I
Masyarakat Berklas dan Negara
1. Negara Adalah Produk Dari Tak Terdamaikannya Kontradiksi Klas
            Apa yang sekarang terjadi dengan ajaran Marx ?, dalam sejarah sudah berkali-kali terjadi dengan ajaran-ajaran para ahli fikir dan pemimpin revolusioner klas-klas tertindas dalam perjuangan mereka untuk pembebasan (Merdeka). Sewaktu-waktu orang revolusioner yang besar masih hidup, klas-klas penindas terus menerus mengejar mereka, menyambut ajaran mereka dengan kedengkian yang paling ganas, kebencian yang gila-gilaan, kampanye-kampanye bohong dan fitnah yang paling tidak terkendalikan. Setelah mereka meninggal dunia, dilakukan usaha-usaha untuk mengubah mereka menjadi patung-patung orang suci yang tidak membahayakan, boleh dikatakan menyatakan mereka sebagai orang suci, memberian keharuman tertentu kepada Nama mereka untuk “Menghibur” klas-klas tertindas dan untuk menipu mereka secara bersamaan itu mengebiri isi ajaran revolusioner, menumpulkan ujungnya yang tajam yang revolusioner dan memvulgarkannya. Dalam “mengolah” Marxisme demikian itulah bertemulah sekarang borjuis-borjuis dan kaum oportunitis didalam gerakan buruh (Rakyat).
            Mereka melupakan, menghapuskan, dan mengagung-agungkan apa yang dapat diterima atau kiranya dapat diterima oleh Borjuis. Semua orang Sosialis-Sovinis sekarang ini adalah “Marxis”, jangan tertawa !!! dan semakin sering sarjana-sarjana borjuis germany, yang kemarin masih merupakan ahli-ahli dalam hal membasmi Marxisme, berbicara tentang Marx yang berkebangsaan Germany, yang seakan-akan telah mendidik serikat buruh yang terorganisasi dengan begitu baik untuk melakukan perang perampokan !!!
dalam keadaan demikian itu, dengan tersebar luasnya secara luar biasa pemutar balikan Marxisme, maka tugas kita pertama-tama ialah Memulihkan ajaran Marx yang sejati tentang negara. Untuk itu perlu mengemukakan serangkaian kutipan yang panjang dari karya-karya Marx dan Engels sendiri. Tentu  saja kutipan yang panjang  akan membikin sulit uraian dan sama sekali tidak akan membantu menjadikan populer. Tetapi tanpa kutipan-kutipan panjang itu sama sekali tidak mungkin. Semua, atau setidak-tidaknya semua bagian yang paling menentukan dari karya-karya Marx dan Engels mengenai masalah negara tidak boleh tidak harus dikutip selengkap mungkin, supaya pemabaca dapat membentuk pendapat dengan bebas mengenai kesulurhan pandangan-pandangan pendiri pandangan sosialisme ilmiah dan mengenai perkembangan pandangan-pandangan itu dan juga supaya pemutar balikannya oleh “Kautskyisme” yang sekarang berdominasi dapat membuktikan secara terdokumentasi dan diperlihatkan dengan jelas.
            Marilah kita mulai dari karya F.Engels yang paling populer “Asal-Usul Keluarga, Milik Perseorangan Dan Negara”, yang pada tahun 1894 sudah diterbitkan edisinya yang ke-enam di Stuttgart. Kita terpaksa menterjemahkan kutipan-kutipan itu dari aslinya dalam bahasa Jerman, karena terjemahannya dalam bahasa Russia. Biarpun sangat banyak, sebagian besar tidak lengkap atau dikerjakan dengan sangat tidak memuaskan.
            “Negara”, kata Engels ketika menyimpulkan analisa sejarah yang dibuatnya, sesekali bukan merupakan kekuatan yang dipaksakan dari luar kepada masyarakat. Negara juga bukanlah “Realita ide moral, bayangan, dan realita akal”, sebagaimana ditegaskan oleh Hegel. Negara adalah produk masyarakat pada tingkat perkembangan tertentu, negara adalah pengakuan bahwa masyarakat ini terlibat dalam kontradiksi yang tak terpecahkan dengan dirinya sendiri, bahwa ia telah terpecah menjadi segi-segi yang berlawanan yang tak terdamaikan dan ia tidak berdaya melepaskan diri dari keadaan demikian itu. Supaya segi-segi yang berlawanan ini, klas-klas yang kepentingan-kepentingan ekonominya berlawanan, tidak membinasahkan satu sama lain dan tidak membinasahkan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka untuk itu diperlukan kekuatan yang seharusnya meredam bentrokan itu, mempertahankannya didalam batas-batas ‘tata tertib’. Dan kekuatan ini, yang lahir dari masyarakat, tetapi menempatkan diri di atas masyarakat dan semakin mengasingkan diri darinya adalah Negara (hlm. 177-178, edisi jerman yang keenam).
            Disini dinyatakan dengan jelas sekali ide dasar Marxisme mengenai masalah peranan sejarah dari negara dan arti negara. Negara adalah produk dan manifestasi dari tak terdamaikannya kontradiksi klas. Negara timbul dimana, ketika dan sebegitu jauh kontradiksi-kontradiksi klas secara objektif tidak dapat didamaikan. Sebaliknya, adanya negara membuktikan bahwa kontradiksi-kontradiksi klas tak terdamaikan. Justru mengenai hal yang paling penting dan fundamental inilah dimulai pemutar balikan Marxisme, yang berlangsung menurut dua garis pokok. Di satu pihak, ideologi-ideologi burjuais dan teristimewah burjuais kecil, yang dibawah tekanan kenyataan-kenyataan sejarah yang tidak dapat dibantah terpaksa mengakui bahwa negara hanya ada dimana terdapat kontradiksi-kontradiksi klas dan perjuangan klas, “mengoreksi” Marx sedemikian rupa, sehingga negara nampak sebagai organ untuk mendamaikan klas-klas. Menurut Marx, negara tidak dapat timbul atau bertahan jika perdamaian klas adalah mungkin. Menurut profesor-profesor dan publisis-publisis bujuais kecil dan filistin, sering sekali mereka dengan maksud baik menunjuk kepada Marx !!. ternyata bahwa negara justru mendamaikan klas-klas.
Menurut Marx, Negara adalah organ kekuasaan klas, organ penindasan dari satu klas terhadap klas yang lain menggunakan ciptaan “Tata Tertib (undang-undang)” yang mengesahkan dan mengkonsolidasi penindasan ini dengan meredakan bentrokan klas-klas. Menurut pendapat politikus-politikus burjuais kecil, tata tertib adalah cara pendamaian klas-klas dan bukan penindasan antar klas yang satu dengan klas yang lain dengan meredakan bentrokan berati mendamaikan dan bukan merampas sarana dan metode-metode perjuangan tertentu dari klas tertindas untuk menggulingkan kaum penindas. Misalnya seluruh kaum sosialis-Revolusioner dan kaum mensyewik dalam revolusi 1917 ketika masalah arti dan peranan negara justru menjadi masalah yang luar biasa pentingnya, menjadi masalah praktis, masalah aksi segera dan lagi aksi secara massal, semuanya segera dan sepenuhnya terjerumus ke dalam teory burjuais kecil “Negara” mendamaikan klas-klas. Resolusi-resolusi dan artikel yang tak terhitung banyaknya dari politikus-politikus kedua partai itu seluruhnya diresapi oleh teori “pendamaian burjuais kecil dan filistin”. Bahwa negara adalah organ kekuasaan klas tertentu yang tidak dapat didamaikan dengan antipodenya (klas yang berlawanan dengannya), ini tak akan dapat dimengerti oleh kaum demokrat burjuais kecil. Sikap terhadap negara adalah salah satu manifestasi yang paling menyolok bahwa kaum Sosialis-Revolusioner dan mensyewik kita sama sekali bukanlah kaum sosialis (apa yang selalu dibuktikan oleh kita kaum bolsyewik), melainkan kaum demokrat burjuais kecil yang menggunakan fraseologi yang hampir sosialis.
Dipihak lain, pemutar balikan Marxisme “secara Kautsky” jauh lebih halus. Secara teori tidak disangkal bahwa negara adalah organ kekuasaan klas tak terdamaikan kontradiksi-kontradiksi klas tak terdamaikan. Tetapi apa yang diabaikan atau dikaburkan adalah sebagai berikut : jika Negara adalah kekuatan yang berdiri dari masyarakat dan yang semakin mengasingkan diri dari masyarakat itu, maka sudah jelaslah bahwa pembebasan klas tertindas bukan hanya tidak mungkin tanpa revolusi dengan kekerasan, tetapi juga tidak mungkin tanpa penghancuran aparat kekuasaan negara yang diciptakan oleh klas yang berkuasa dan merupakan penjelmaan dari “pengasingan” itu sendiri. Kesimpulan secara teori jelas dengan sendirinya ini telah di tarik oleh Marx sebagaimana yang akan kita lihat dibawah ini, dengan sangat pasti bedasarkan analisa sejarah yang konkrit mengenai tugas-tugas revolusi. Dan justru kesimpulan inilah yang oleh Kautsky akan kita tunjukan secara teperinci dalam uraian selanjutnya di lupakan dan diputarbalikan.
2. Satuan Khusus Orang Bersenjata, Penjara, DSB.
Berbeda dengan organisasi gens (suku, Ras, atau klan). Lama, Engels melanjutkan “Negara, pertama, membagi warga negara menurut pembagian wilayah. Pembagian demikian itu nampaknya “wajar” bagi kita, tetapi ia telah meminta perjuangan berjangka panjang melawan organisasi lama bedasarkan suku atau klan. Ciri kedua yang membedakan ialah di tegakannya kekuasaan kemasyarakatan yang sudah tidak sesuai langsung dengan penduduk yang mengorganisasi diri sebagai kekuatan bersenjata. Kekuasaan kemasyarakatan yang khusus ini perlu, karena organisasi bersenjata  yang bertindak sendiri dari penduduk menjadi tidak mungkin sejak terpecahnya masyarakat menjadi beberapa klas. Kekuasaan kemasyarakatan ini ada di dalam setiap negara. Ia tidak hanya terdiri dari orang-orang bersenjata saja, tetapi juga terdiri dari embel-embel materil, yaitu penjara dan segala macam lembaga pemaksa, yang tidak dikenal oleh susunan masyarakat gens (klan).
Engels membentangkan konsepsi “kekuatan” yang disebut negara sebagai kekuatan yang lahir dari masyarakat, tetapi yang menempatkan diri  diatasnya  dan semakin mengasingkan diri darinya. Terdiri dari apa pada pokoknya kekuatan itu ? ia terdiri dari satuan-kesatuan khusus orang-orang bersenjata, dengan “organisasi” bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk. Seperti semua ahli fikir revolusioner yang besar, Engels berusaha mengarahkan perhatian kaum buruh yang sadar justru kepada apa yang oleh filistinisme yang berdominasi dianggap tidak patut diperhatikan, paling biasa, disucikan oleh prasangka-prasangka yang tidak hanya berakar-akar, tetapi boleh dikatakan yang sudah membatu. Tentara tetap dan polisi pada hakikatnya adalah alat-alat utama kekuatan kekuasaan negara, tetapi bisakah fungsinya lain daripada itu ??
Dari pandangan mayoritas luas, orang-orang eropa akhir abad ke-19, dan kepada mereka Engels menunjukan kata-katanya, yang tidak pernah mengalami dan juga tidak pernah mengikuti dari dekat proses revolusi besar satupun, tidak bisa lain daripada itu. Mereka sama sekali tak mengerti apa “organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk” itu. Atas pertanyaan mengapa timbul kebutuhan akan kesatuan-kesatuan khusus dari orang-orang bersenjata, yang ditempatkan diatas masyarakat dan mengasingkan diri dari masyarakat (polisi dan tentara tetap), kaum filistin eropa barat dan rusia cendrung untuk menjawab dengan beberapa kalimat yang dipinjam dari spancer atau mikhailhovski, yaitu dengan menunjuk pada semakin rumitnya kehidupan sosial, defrensiasi fungsi-fungsi, DSB.
Penunjukan yang demikian itu tampaknya “ilmiah” dan secara efektif membius perasaan orang biasa dengan mengaburkan kenyataan yang pokok dan dasar, yaitu terpecahnya masyarakat menjadi klas-klas bermusuhan yang tak terdamaikan. Andaikata, tidak ada perpecahan ini, organisasi bersenjata yang cenderung bertindak sendiri dari penduduk itu akan berbeda dengan organisasi primitif bersekawanan kera yang menggunakan tongkat, atau organisasi manusia primitif atau organisasi orang-orang yang tergabung dalam masyarakat klan, dalam hal kerumitannya, ketinggian teknik nya, dst. Tetapi organisasi demikian itu masih mungkin.
Organisasi demikian itu tidak mungkin karena masyarakat beradap telah terpecah menjadi klas-klas (kelompok) yang bermusuhan, dan lagi bermusuhan yang tak terdamaikan, sehingga klas-klas ini diperlengkapi dengan senjata yang “bertindak sendiri” akan timbul perjuangan bersenjata diantara mereka. Terbentuklah negara, terciptalah kekuatan khusus, satuan khusus orang-orang bersenjata, dan setiap revolusi, dengan menghancurkan aparat negara, menunjukan dengan jelas kepada kita bagaimana klas yang berkuasa berdaya upaya memulihkan satuan khusus orang-orang bersenjata yang mengabdinya, bagaimana klas yang tertindas berdaya upaya menciptakan organisasi baru macam itu yang mampu mengabdi bukan kepada kaum penghisap, melainkan kepada kaum terhisap. Dalam argument tersebut diatas, engels secara teori mengemukakan justru soal yang dihadapi kepada kita dalam praktek oleh setiap revolusi besar, dengan nyata dan lagi dalam skala aksi massal, yaitu soal saling-hubungan antara satuan khusus orang-orang bersenjata dengan “organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk”. Akan kita lihat bagaimana soal ini secara konkrit dilukiskan oleh pengalaman revolusi eropa dan rusia. Tetapi marilah kita kembali kepada uraian Engels.
Ia menunjukan bahwa kadang-kadang, umpamanya, dibeberapa tempat di Amerika Utara, kekuasaan kemasyarakatannya lemah (yang dimaksud ialah kekecualian yang jarang bagi masyarakat kapitalis, dan tempat-tempat di Amerika Utara dalam periode pra-imprealismenya, dimana berdominasi kolonis bebas), tetapi berbicara secara umum, kemasyarakatan itu menjadi lebih kuat; kekuasaan kemasyareakatan menjadi lebih kuat sejalan dengan meruncingnya kontradiksi-kontradiksi klas didalam negara, dan sejalan dengan bertambah besarnya negara-negara yang berbatasan dan makin banyaknya penduduk negara-negara itu. Lihat sajalah Eropa dewasa ini, dimana perjuangan klas dan persaingan dalam penaklukan telah merangsang kekuasaan kemasyarakatan sampai sedemikian tingginya sehingga mengancam akan menelan seluruh masyarakat dan bahkan negara. Itu di tulis tidak lebih kemudian daripada awal tahun-tahun 90an abad yang lalu. Kata pendahuluan engels yang terakhir bertanggal 16 juni 1891. Pada waktu masa peralihan imprealisme baik dalam arti dominasi penuh trust-trust, dalam arti kemahakuasaan bank-bank besar, maupun dalam arti politik kolonial secara besar-besaran, Dst. Baru saja mulai di Perancis, dan bahkan lebih lemah lagi di Amerika Utara dan Jerman. Sejak itu persaingan dan penaklukan  telah maju dengan langkah-langkah raksasa, lebih-lebih karena pada awal dasawarsa kedua abad ke-20 seluruh bola bumi telah terbagi habis diantara “penakluk-penakluk yang bersaingan, yaitu diantara negara-negara perampok besar.sejak itu persenjataan angkatan darat dan laut telah berkembang dengan luarbiasa, dan perang perampokan tahun 1914-1917 untuk pendominasian dunia oleh Inggris atau Jerman untuk membagi barang rampasan telah mendekatkan “penelanan” semua kekuatan masyarakat oleh kekuasaan negara yang berwatak penyamun kepada malapetaka total.
Sudah pada tahun 1891 Engels dapat menunjukan persaingan dalam penaklukan sebagai salah satu ciri menonjol yang terpenting dari politik luar negeri negara-negara besar, tetapi dalam tahun-tahun 1914-1917, ketika justru persaingan inin yang meruncing berlipat ganda, melahirkan perang  Imprealis, bajingan-bajingan sosial-sovinis menyelubungi  pembelaan atas kepentingan-kepentingan perampok borjuasi. Mereka sendiri dengan kata-kata “Membela Tanah Air” membela Republik dan Revolusi dst.

Minggu, 30 Agustus 2015

SEJARAH TARI PIRING DAN SEJARAH PERKEMBANGAN TARI TRADISIONAL KHAS MINANGKABAU





1.1.Pendahuluan
            Tari piring atau yang biasa urang Awak sebut “Tari Piriang” merupakan  salah satu tarian tradisional khas Indonesia yang terbilang sangat unik karena saat pentas menarikannya para penarinya sambil membawa-membawa dua buah piring di kedua tangan para penari. Namun sayangnya, walau tari piring sudah sangat membumi sampai ke taraf Internasional, kita banyak tidak mengetahui sejarah asal-usul tari piring. Hal seperti ini yang sangat di sayangkan, terutama karena tari piring ini merupakan seni Tradisional dari Minangkabau yang wajib dipertahankan oleh setiap generasi bangsa Indonesia.
            Pada mulanya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat Minangkabau yang mayoritas masih mempercayai kepercayaan terhadap Dewa-Dewa, mereka percaya bahwa dewa sudah memberikan kepada rakyat hasil panen yang sangat melimpah, serta melindungi dari Balak mara bahaya. Sebab itu gadis-gadis penari akan memberikan hasil panen mereka kepada dewa yang ditaruh diatas piring.
            Para gadis-gadis penari memakai pakaian adat yang cantik serta berprilaku lemah lembut guna menghadap dewa. Sesaji tersebut dibawa kehadapan dewa sambil menari dengan meliuk-liukkan tubuh mereka dan piring yang ada ditangan untuk menunjukan kemampuan mereka. Inilah awal mula terciptanya tari piring yang disinyalir telah dilakukan sejak 800 tahun yang silam.
            Tarian ini bahkan terus mengalami perkembangan sesuai perkembangan zaman pemerintah sriwijaya, yang membuatnya sangat dikenal di seluruh wilayah Sumatera Barat. Setelah kerajaan Sriwijaya ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit pada abad ke-16 maka beberapa penari pun ikut pindah ke melayu sebagai pengungsi dari daerah Sriwijaya. Mereka tiba di Malaysia serta Brunei Darusalam yang memiliki latar budaya berbeda dengan budaya Minangkabau. Karena itulah tarian piring yang berada di daerah tersebut kemudian berubah karena mereka harus mengikuti adat dari Melayu sehingga terjadi sejarah asal-usul tari piring di daerah Melayu.
            Minangkabau sendiri terjadi perubahan yang sangat drastis pada tari piring khas daerahnya. Terlebih setelah agama Islam masuk atas usungan dari kerajaan majapahit membuat persembahan pada dewa tidak lagi dibutuhkan. Selanjutnya tari piring justru menjadi tarian sesembah untuk para Raja-raja maupun pejabat teras kerajaan sebagai hiburan pada acara besar dan khusus di kerajaan. Namun tarian ini sangat populer di kalangan rakyat Minang, maka rakyat pun melakukan tarian yang sama pada acara-acara di pesta rakyat. Dengan perkembangannya sebagai tarian persembahan untuk menghibur raja dan para tamu raja, maka tari ini juga digunakan sebagai persembahan dalam acara pernikahan dimana sepasang mempelai dianggap sebagai Raja dan Ratu sehari.
            Di Malaysia sendiri, tari piring  dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga yang berada, Bangsawan, dan Hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat dikawasan Seremban, Kuala Pilah, dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tari tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput perkumpulan tarian ini mempersembahkan tari piring berdurasi selama 10-20 menit diperuntukan untuk mempersembahkan tarian ini.
            Tari piring dan pencak silat dipersembahkan dihadapan mempelai diluar rumah. Majelis perkawinan atau sesuatu menyangkut acara besar, majelis akan lebih meriah jika diadakan acara tari piring. Namun begitu segelintir masyarakat tidak dapat menerima kehadiran kumpulan tarian, karena dianggap ada percampuran laki-laki dan perempuan. Bagi mengatasi masalah tersebut, kumpulan tari hanya di peruntukan hanya untuk para gadis-gadis saja. Kira-kira 8 abad yang silam, tari piring telah ada di wilayah kehuluan Melayu. Tari piring identik dengan Sumatera Barat. Sehingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan menjadi tradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan majapahitlah, tepatnya pada abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa runtuh.
            Namun demikian, tari piring lantas tidak ikut lenyap. Bahkan, tari piring terus mengalami perkembangan ke wilayah-wilayah Melayu lain, seiring hengkangnya pengagum setia Sri Vijaya. Bergantinya pelaku peradaban memaksa adanya perubahan konsep, orientasi, dan nilai pada tari piring.
2.1.Sejarah Tari piring
            Pada mulanya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat Minangkabau yang mayoritas masih mempercayai kepercayaan terhadap Dewa-Dewa, mereka percaya bahwa dewa sudah memberikan kepada rakyat hasil panen yang sangat melimpah, serta melindungi dari Balak mara bahaya. Sebab itu gadis-gadis penari akan memberikan hasil panen mereka kepada dewa yang ditaruh diatas piring.
            Para gadis-gadis penari memakai pakaian adat yang cantik serta berprilaku lemah lembut guna menghadap dewa. Sesaji tersebut dibawa kehadapan dewa sambil menari dengan meliuk-liukkan tubuh mereka dan piring yang ada ditangan untuk menunjukan kemampuan mereka. Inilah awal mula terciptanya tari piring yang disinyalir telah dilakukan sejak 800 tahun yang silam.
            Tarian ini bahkan terus mengalami perkembangan sesuai perkembangan zaman pemerintah sriwijaya, yang membuatnya sangat dikenal di seluruh wilayah Sumatera Barat. Setelah kerajaan Sriwijaya ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit pada abad ke-16 maka beberapa penari pun ikut pindah ke melayu sebagai pengungsi dari daerah Sriwijaya. Mereka tiba di Malaysia serta Brunei Darusalam yang memiliki latar budaya berbeda dengan budaya Minangkabau. Karena itulah tarian piring yang berada di daerah tersebut kemudian berubah karena mereka harus mengikuti adat dari Melayu sehingga terjadi sejarah asal-usul tari piring di daerah Melayu.
            Minangkabau sendiri terjadi perubahan yang sangat drastis pada tari piring khas daerahnya. Terlebih setelah agama Islam masuk atas usungan dari kerajaan majapahit membuat persembahan pada dewa tidak lagi dibutuhkan. Selanjutnya tari piring justru menjadi tarian sesembah untuk para Raja-raja maupun pejabat teras kerajaan sebagai hiburan pada acara besar dan khusus di kerajaan. Namun tarian ini sangat populer di kalangan rakyat Minang, maka rakyat pun melakukan tarian yang sama pada acara-acara di pesta rakyat. Dengan perkembangannya sebagai tarian persembahan untuk menghibur raja dan para tamu raja, maka tari ini juga digunakan sebagai persembahan dalam acara pernikahan dimana sepasang mempelai dianggap sebagai Raja dan Ratu sehari.
            Di Malaysia sendiri, tari piring  dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga yang berada, Bangsawan, dan Hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat dikawasan Seremban, Kuala Pilah, dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tari tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput perkumpulan tarian ini mempersembahkan tari piring berdurasi selama 10-20 menit diperuntukan untuk mempersembahkan tarian ini.
3.1.Urutan Gerakan Tari Piring yang Menjadi Asal-Usul Sejarah
            Tari piring akan dimulai setelah pemusik memukul “Gong” sebagai tanda bermulainya acara. Kemudian para penari akan masuk ke dalam arena pentas dengan memberi sembah pada raja atau pengantin sebanyak tiga kali sebagai tanda pengehormatan mereka. Selanjutnya tarian dimulai dengan meliuk-liukan piring kekanan dan kekiri sesuai dengan hentakan musik dalam gerakan dinamis yang cepat, namun piring tetap tidak boleh lepas dari genggaman tangan. Bila piring sampai terlepas maka penarinya akan menerima rasa malu yang luar biasa terutama dari masyarakat adat minang sendiri.
            Gerakan tari ada yang mengambil sikap gerakan silat tradisional Minangkabau, terutama untuk tarian yang ditarikan oleh laki-laki. Piring yang dibawa juga saling ditumbukkan satu sama lain agar muncul suara dentingan yang indah, namun terkadang penari juga mengenakan cincin pada kedua jari tengahnya untuk menghasilkan bunyi-bunyi dentingan.
            Sudah terdapat susunan piring yang tersusun dilantai dengan khusus yang mengarah menuju kehadapan pengantin, kemudian penari akan bergerak mundur dengan langkah tetap menginjak susunan piring tadi, Namun tidak boleh sekali-kali menunjukan punggungnya pada pengantin. Setelah penari berhasil kembali keposisi awalnya dengan mengikuti susunan piring maka mereka kembali melakukan sembah penutupan pada pengantin sebanyak tiga kali.
            Pada tari piring yang lebih extream, biasanya piring dilemparkan kelantai untuk dipecahkan kelantai dan tarian dilanjutkan dengan penari menari diatas piring yang pecah. Ajaibnya para penari tersebut terus menari terus tanpa merasakan kesakitan ataupun terluka akibat pecahan piring yang mereka injak tadi. Tarian ini diiringi oleh alat musik Talempong dan Saluang. Jumlah penari biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga sampai tujuh orang. Kombinasi musik yang cepat dengan gerakan tari yang cepat, dan di selingi dentingan dua cincin di jari-jemari para penari terhadap piring yang dibawakannya. Hal kemudian menjadi salah satu keunikan yang membuat sejarah asal usul tari piring semakin terkenal didunia.
4.1. Fungsi Tari Piring
            Awal mulanya fungsi dari tari piring di daerah Minangkabau sendiri, belum seperti fungsi pada sekarang ini. Dimana awal-mulanya kegunaan tari piring ini dipakai oleh Minangkabau ketika saat pada musim panen tiba, yang dimana tari piring ini dimanfaatkan oleh masyarakat Minangkabau ketika itu mempunyai tujuan untuk memberi perkataan rasa syukur pada dewa-dewi padi, dimana telah memberikan hasil panen yang berlimpah-ruah pada masyarakat Minangkabau. Selain itu pada zaman tersebut, tari piring ini digerakkan atau dipentaskan oleh beberapa pemuda-pemudi Minangkabau.
            Bersamaan dengan masuknya serta terbentuknya kerajaan-kerajaan yang berjalan pada daerah Minangkabau, selain itu juga fungsi serta tujuan dari tari piring juga beralih fungsi. Dimana saat kerajaan di Minangkabau (kerajaan Pagaruyung) tari piring ini dipakai oleh orang-orang Minangkabau sebagai alat untuk pemberian rasa kehormatan pada beberapa anggota kerajaan, terlebih pada raja yang memimpin ketika itu. Namun, tari piring pada zaman ini dapat dapat dimanfaatkan ketika tamu-tamu agung kerajaan datang.
            Setelah majunya dan telah menyatunya segala masyarakat-masyarakat yang ada di negara ini serta terlebih daerah Minangkabau atau di zaman modern ini, tari piring ini masih dipakai oleh masyarakat Minangkabau, tetapi tujuan dari manfaat tari piring ini dapat juga beralih meskipun fungsinya tetap sama seperti di zaman dulu.
            Dimana sekarang ini orang-orang Minangkabau mempergunakan atau mempestakan tari piring ketika ada sesuatu acara pesta pernikahan yang berlangsung di daerah Minangkabau dan diluar daerah Minangkabau (penduduk atau masyarakat keturunan Minangkabau). Dimana pada sekarang ini kegunaan tari piring ini tetap sama dengan manfaat tari piring pada awal-mulanya. Bedanya di zaman dahulu tari piring berperan hanya untuk memberi rasa syukur dan pujian kepada raja, tetapi sekarang ini yang dikira raja dalam manfaat tari piring ini yaitu ke dua mempelainya yang tengah menikah. Terkecuali dipentaskan ketika satu acara pernikahan, tari piring pada sekarang ini juga dipentaskan ketika ada satu tamu agung yang datang kedaerah Sumatera Barat.
5.1.Filsafah Tari Piring
            Tari piring sendiri mempunyai peranan yang besar didalam adat istiadat perkawinan masyarakat Minangkabau. Pada dasarnya, persembahan sebuah tari piring di majelis-majelis perkawinan adalah bertujuan untuk sebagai hiburan semata-mata. Namun persembahan tersebut boleh berperanan lebih dari itu. Persembahan tari piring didalam sebuah majelis perkawinan boleh dirasai peranannya oleh empat pihak yaitu, kepada pasangan pengantin kepada tuan rumah kepada orang ramai kepada penari.
            Pasangan pengantin adalah orang yang dirayakan didalam majelis-majelis perkawinan, mereka digelarkan “Rajo Sahari”. Oleh karena itu, persembahan tari piring dihadapan mereka adalah pelengkap kepada hari bersejarah tersebut. Dalam masa yang sama, pasangan pengantin akan merasakan kehadiran penari seperti “raja sehari” yang sedang dinanti-nantikan oleh orang ramai dengan simbolik ‘selamat datang’ melalui tari piring. Dalam masa yang sama juga akan dirasakan oleh kedua orang tua keluarga pengantin, mereka merasakan bahwa majelis persandingan tersebut belum tamat dan tidak lengkap jika disertai dengan tari piring.
            Dikalangan orang ramai yang menghadiri acara perkawinan itu pula, selain sebagai suatu hiburan, mereka boleh memberi semangat kepada para penari piring agar membuat persembahan menjadi lebih meriah. Malah, terkadang orang ramai yang menonton akan turut serta menyertai persembahan tersebut, semata-mata untuk memeriahkan suasana dan menunjukan kebolehan mereka, Keadaan ini agak berbeda pula kepada para penari piring itu sendiri. Setengah dari para penari yang masih bujang, menunjukan kehebatan merekaa menari untuk bertujuan memikat gadis-gadis pengiring dari pihak yang bertandang atau gadis-gadis sekampung yang sedang menonton acara persembahan mereka.
            Suatu perkara menarik bgi penari piring pentas untuk menunjukan kebolehan dan kecakapan penarinya memijak-mijak kaca di atas pentas sebagai mengakhiri persembahan tari piring. Didalam persembahan ini kaca yang telah dipecah-pecahkan berukuran antara tiga hingga delapan sentimeter (3-8 Cm) yang ditumpukan diatas pentas yang kemudian dipijak-pijak serta di kais-kais dengan kaki para penari. Simbolik kepada acara ini ialah para pembawa hidangan sedang melalui atau memijak kaca piring yang pecah semasa mereka membawa sajian lauk-pauk untuk diberikan kepada dewa.
6.1.Kesimpulan
            Bahwa didalam tari piring mempunyai nilai-nilai trasedental, yang dimana nilai-nilai trasedental ini ada dalam tata langkah pelaksanaan tari piring. Dimana piring-piring yang dipegang oleh beberapa penari ini disusun keatas, dimana memperlihatkan, bahwa piring diatas mempunyai tujuan untuk kearah tuhan (trasendental) serta tampak dalam manfaat serta maksud tari piring adalah untuk mengucapkan rasa syukur serta rasa terima kasih kepada sang pencipta yang telah memberikan nikmat nya kepada masyarakat Minangkabau.
            Walaupun tari piring terus mengalami perubahan dan perkembangan dari zaman dahulu, zaman raja melayu, hingga zaman modern ini. Tari piring tetap lah bagian terpenting didalam acara persembahan-persembahan di Minangkabau dan diluar Minangkabau sendiri, sebagai dasar Simbolik penghormatan kepada tuan yang mempunyai acara besar (Baralek Gadang).
7.1.Daftar Pustaka
http://www.portalsejarah.com/sejarah-asal-usul-tari-piring-serta-perkembangannya.html